Reviews

A VERY LONG WEEKEND & #PEMUDAINDONESIA

Banyak alasan yang membuat saya membuat album #averylongweekend. Mungkin kalau kalian kira di sini saya akan jadi curhat masalah pribadi saya, kalian salah besar. Mungkin kalau yang kalian suka materi infotainment seperti itu bisa didapatkan dengan mendengarkan saja lagu-lagu yang ada di album tersebut, karena saya menumpahkan seluruh keluh kesah saya dalam penulisan lagu-lagunya. Tapi bukan itu yang akan saya bahas di sini.

Pertama, saya membuat album #averylongweekend karena jujur saya capek mendengar di luar lebih banyak orang-orang yang protes daripada orang-orang yang melakukan action, baik secara makro maupun secara mikro. Maka itu saya tergerak untuk mudah-mudahan tidak ikut dalam barisan tersebut dan bisa lebih banyak bertindak daripada bicara, dan mudah-mudahan juga membuat orang-orang yang mendengarkan album ini dan paham akan maksudnya, juga lebih banyak action daripada protes.

Dilihat dari sudut pandang mikro, saya sebetulnya capek sekali mendengarkan di dunia kerja saya (industri musik) banyak sekali orang-orang yang lebih banyak protes ketimbang action. Musisi protes sama manajemen, musisi protes sama labelnya, manajemen protes sama artis, label merasa artisnya terlalu mepersulit, dan lain-lain sebagainya. Sementara dari sisi artnya tidak ada inovasi yang berarti. Sehingga semuanya terasa seperti omong kosong. Maka itu saya langsung membuat album #averylongweekend yang sengaja saya bagi-bagikan gratis. Sebetulnya niat awalnya karena capek aja mendengar terlalu banyak complain-complain tidak penting jadi daripada ikutan protes gw berkarya saja. Kembali ke fitrahnya, namanya juga musisi, berarti kerjanya bermusik. Karena gw yakin musisi-musisi legendaris jaman dulu nggak niat juga untuk jadi legenda. Apakah Led Zepellin niat jadi legenda? Apakah Iwan Fals niat jadi legenda? Saya rasa tidak, mereka membuat saja musik yang bagus dan mereka sukai. Sehingga harapan saya album ini bisa membuat seluruh teman-teman musisi yang mulai lebih banyak protes untuk bisa kembali ke fitrahnya yaitu bermusik. Prinsipnya quality brings money. Sebetulnya itu di bidang pekerjaan apapun sih. Kerja saja dulu yang benar baru bicara.

Bicara tentang uang, cari uang itu memang sulit sekali, apalagi di masa seperti ini. Tapi menurut saya hal seperti itu adalah tantangan, harus dinikmati. Jadi kita coba, gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dan seterusnya dan seterusnya. Dan karena saya laki-laki, saya selalu berpikir, tanggung jawab menafkahi itu sudah dari jaman dahulu kala, so just don’t make a big deal out of it. Dari jaman purba juga pasti laki-laki yang berburu cari makan. Jadi kalau lo yang baca ini orang yang sukses, tidak usah terlalu bangga dengan kesuksesan lo, dan kalau lo yang baca ini masih berjuang, terus berjuang jangan diambil pusing. Itu juga berhubungan dengan rekan-rekan saya sesama musisi. Berkarya saja yang maksimal dan jadi musisi yang cerdas.

Dari sisi makro, album ini juga saya gunakan untuk menampung ide #pemudaindonesia lewat dua lagu yaitu Drama Senayan dan Bangkitlah Indonesia. Diikuti juga dengan membuat video untuk menularkan semangat #pemudaindonesia dengan beberapa teman-teman saya. Prinsipnya sebetulnya sama. Masyarakat sekarang protes ke pemerintah, aparat-aparat pemerintah

sibuk korupsi, sebetulnya kalo masyarakat protes ke bangsa ini, semuanya punya andil melakukan kesalahan. Jadi semangat #pemudaindonesia ini sebetulnya simple saja, mengajak bagaimana caranya lo bisa berdiri sendiri dan hidup tidak menyusahkan orang lain. Ini untuk siapapun ya, karena semuanya berkaitan. Dan jangan lupa kalau kita orang Indonesia. Kita orang Indonesia itu mutlak, seperti lo itu laki-laki atau wanita. Coba aja, kalau lo mengelak dari takdir lo itu laki-laki atau wanita, jadinya ajaib kan? Nah, lo nggak bisa mengelak kalau lo itu orang Indonesia. Jadi gw membuat #pemudaindonesia untuk mudah-mudahan bangsa Indonesia, terutama para #pemudaindonesia bisa dapat input dari cara pikir gw ini, “stop making excuses, be smart! Act!!!”. Simple banget kan.

Sahabat saya Ari Lasso pernah berkata “Tidak ada yang betul-betul penting di dunia ini, semuanya hanyalah permainan belaka”. Satu kalimat itu dampaknya ternyata besar sekali ke hidup saya. Dan album ini bisa dibilang adalah bentuk interpretasi saya dari semangat hidup itu. Kehidupan personal lagi banyak masalah, banyak uneg-uneg, ditumpahkan aja jadi karya. Kan gw musisi, kerjanya main musik, bikin musik, jadi ya kerja saja yang maksimal. Jadi hasilnya itu ada, bukan omong kosong saja. Jadi buat kalian yang belum dengerin album ini, bisa download gratis di www.alexatheband.com/averylongweekend.zip. Kalau ada yang berpikir ujung-ujungnya tulisan gw ini promosi, lo salah. Gw betul-betul nggak dapat untung apa-apa dari album ini. I just wanna do something really fun. Gw betul-betul mau menjalani hidup gw santai seperti akhir pekan yang panjang (averylongweekend) dan berkarya semaksimal mungkin. So, I hope you can living your life like a very long weekend, and make the best out of you guys. Tunjukin karya lo dan tunjukin apa yang diri lo bisa lakukan secara maksimal! Cheers!!!!

Ditulis oleh:

@JMonoAlexa


 

Feedback (sebuah tulisan dari Iman Fattah)

Sudah Dari sananya, seorang seniman dituntut untuk bisa berkreasi dengan berbagai macam hal. Berkreasi tidak tertutup hanya dengan menggunakan media yang itu-itu saja misalnya kanvas, kertas gambar, alat musik, kamera, dll. Seorang seniman akan menggunakan berbagai macam hal untuk mengeluarkan bentuk kreasinya dan hal yang paling penting adalah idenya.

Saya sebagai seorang musisi, sangat senang mencoba dan memainkan segala macam alat musik, bahkan bukan alat musik sekalipun. Saya percaya bahwa semua hal bisa dijadikan medium untuk berkarya dan dalam hal ini, untuk saya adalah bermusik. Berbagai macam medium itu bisa berupa bunyi-bunyian sederhana sampai yang paling rumit sekalipun. Sebetulnya, semua alat musik tercipta dari eksperimen dan hasil percobaan manusia di jamannya dan di setiap peradabannya.

Saat ini, alat musik sudah berfungsi sebagai alat industrial dan komersial yang diperjualbelikan untuk kepentingan umum. Fungsi alat musik sebagai instrumen untuk mengekspresikan perasaan seseorang berubah seiring dengan budaya komersil. Bahkan saat ini, industri alat musik sudah mendunia dan menjadi salah satu industri yang terbesar.

Tetapi bukan berarti alat musik yang kita kenal (gitar, bass, drum, dll) berhenti fungsinya sampai disitu. Setiap instrumen masih bisa kita “explore” dan gali lagi lebih dalam lagi. Bahkan kita bisa membunyikan instrumen musik itu tanpa harus seperti yang tertulis di buku panduan saja. Contohnya seperti gitar dengan suara “Feedback”.

"Feedback describes the situation when output from (or information about the result of) an event or phenomenon in the past will influence the same event/phenomenon in the present or future. When an event is part of a chain of cause-and-effect that forms a circuit or loop, then the event is said to "feed back" into itself."

Original Source : Wikipedia

Kalau dalam istilah audio, Feedback adalah suatu signal yang terproses berlipat-lipat sehingga membentuk signal suara yang sama dan terjadi terus menerus. kalau digambarkan kira-kira seperti ini :

Kalo dalam praktek gampangnya, coba kita ambil microphone dirumah atau di tempat karaoke, lalu dekatkan microphone tersebut ke speaker, akan terjadi suara keras, tajam, berdengung dan melengking yang membuat sakit telinga kita.

Itulah Feedback.

Feedback bisa berdampak sangat berbahaya karena kerasnya frekuensi suara yang dihasilkan seperti Tinnitus, pengang, susah mendengar bahkan yang paling parah adalah kerusakan pendengaran permanen. Tidak sedikit orang yang mengalami hal yang terakhir. Feedback adalah suatu suara tidak enak yang dihasilkan oleh pengulangan signal suara terus menerus sehingga volume suara tersebut juga bertambah berkali-kali lipat.

Oooh, tetapi apa yang terjadi pada musik? feedback kadang bisa digunakan oleh para musisi untuk menghasilkan karakter suara tertentu. Ketidak-sengajaan itu membuat suara feedback dipakai untuk banyak hal karena ternyata suara ini bisa memberi efek yang keren. Mungkin The Beatles adalah salah satu pioneer awal yang mempopulerkan suara feedback meskipun bukan yang pertama menemukannya.

Sepertinya, para musisi dituntut untuk berkreasi sedemikian rupa dengan ide dan kreatifitas mereka sampai memakai suara feedback dan membalikan suara rusak dan tidak enak tersebut menjadi karakter efek yang unik.

Suara keras yang tidak enak dan bisa membahayakan pendengaran bisa menjadi sesuatu yang positif dan membangun apabila digunakan dengan bijak.

Bagaimana dengan para politisi kita? apakah mereka bisa mendengar "Feedback" dari masyarakat atas hasil kerja mereka sendiri tanpa merusak pendengaran mereka dan menjadikannya hal yang positif?

Ditulis oleh:

Iman Fattah

@imanfattah

www.imanfattah.com

 

   

Cerita Untuk Peter (sebuah cerita dari Risa)


Dear peter, aku mau bercerita tentang beberapa hal yang belum sempat kuceritakan kepadamu.

Kau harus tahu, kini pandanganku tentang kehidupan menjadi lebih luas daripada saat kita pertama kali berjumpa dulu. Kamu pasti masih ingat, saat itu kamu mendapatiku tengah duduk dipojok loteng rumah kita dulu, menangis terisak sendiri dan sedikit bergumam tengah berbicara kepada tembok yang ada disampingku. Saat itu umurku masih 9 dan kamu masih tampak jauh lebih tinggi daripada aku. Saat itu mungkin kamu iba melihat sesosok anak manusia berseragam sekolah dasar, terpojok karena perlakuan teman-teman seusianya yang semena - mena hanya karena tidak menerima kehadiran anak baru pindahan dari desa. Saat itu aku ingat kamu pelan mengelus kepalaku sambil berkata, “Risa, apa yang terjadi padamu?” seolah sudah sejak lahir kita saling mengenal, aku yang kalut tidak terlalu kaget dengan kehadiranmu kala itu, dan dalam hitungan menit kita menjadi sahabat yang tidak bisa terpisahkan.

Begitu banyak waktu yang kita lewati hingga aku tak mau menjalani kehidupanku sebagai anak-anak normal yang pada umumnya cenderung lebih suka berkumpul dengan kawan-kawan seusianya. Perlakuan mereka yang terkadang tidak manusiawi kalah berbanding terbalik dengan perlakuanmu yang sangat manusiawi meski kamu bukan bagian dari kehidupan manusia yang sesungguhnya. Betapa aku sangat menghargai perlakuanmu terhadapku hingga seringkali terbersit keinginan untuk mengikuti langkahmu secara utuh, selamanya aku ingin bersama dengan sahabatku…kamu. Benar benar kututup mata dan telinga pada dunia yang seharusnya menjadi bagian dari perjalanan hidupku.

Aku bertumbuh dengan cepat hingga tinggiku tak lagi berada dibawahmu, kamu mulai merasa malu dan sungkan terhadapku yang semakin lama semakin mirip sosok yang cocok kamu jadikan kakak. Kamu mulai menjauh..menjauh dan kadang untuk beberapa lama benar-benar tak bisa kutemui. Saat itu, saat dimana aku mulai merasa kembali berada didalam dunia yang dipenuhi kebingungan. Kini tak ada lagi peter sahabat kecilku yang selalu ada dimanapun kupijakkan kaki. Tapi tahukah kamu peter? Lagi lagi kamu adalah penyelamat hidupku..

Mataku terbuka, telingaku pun peka, dunia mulai terasa luas dihadapanku…. Begitu banyak hal yang ternyata banyak kulewatkan. Tidak pernah terbersit rasa sesal karena pernah menutup semuanya hanya karena terlalu nyaman berada di duniamu…dunia Peter, tapi kini aku pun tak menyesal saat akhirnya aku dan kamu sadar bahwa kita adalah dua sahabat yang walau bagaimanapun tidak bisa disatukan di dalam dunia yang sama. Aku manusia, kamu mahkluk kasat mata.

Peter kamu tahu? Aku hanya kurang beruntung karena pernah bertemu manusia-manusia yang kurang menyenangkan waktu dulu, hal yang menjadi tolak ukur penyamarataan kelakuan manusia yang satu terhadap manusia yang lainnya, aku hanya kurang sabar menghadapi mereka yang memang terbiasa mencurigai orang yang baru mereka kenal. Kini aku tahu beberapa jawaban dari hal yang kita pernah sama sama bicarakan, dulu kamu pernah bertanya “Risa, kenapa manusia selalu jahat terhadap manusia lainnya? Aku pernah menjadi manusia, tapi aku juga mati di tangan manusia…bukan kah kita semua sama?”. Sekarang aku tahu jawabannya, dimata Tuhan…kita semua sama, 100 persen kamu harus percaya itu. Tapi dimata manusia, belum tentu semuanya dianggap sama. Untuk kasusmu, aku yakin kamu hanya korban, tentara nipon itu menganggap kamu dan orang-orang netherland lainnya sama pada saat itu…mereka menganggap kalian adalah sesuatu yang harus dienyahkan dari muka bumi. Turut berduka dariku untukmu dan keluargamu..peter.

Seleksi alam, ya…seleksi alam yang pada akhirnya menyatukanku dengan manusia manusia yang begitu menyenangkan, bisa membuatku kembali tertawa seperti saat saat bersamamu dulu. Bisa mengerti bagaimana caranya menjaga perasaan seorang sahabat, dan membuatku menjadi manusia seutuhnya yang sangat menghargai hidup. Jika kamu bertanya bagaimana caraku mendapatkan kebahagiaan ini? Aku akan menjawab, berlakulah menjadi diri sendiri yang mencoba tulus menjalani kehidupan ini. Satu persatu banyak manusia yang diam diam menjadi jauh dariku, tapi tak sedikit yang pada akhirnya menyatu denganku dan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku. Aku menyebutnya seleksi alam.

Semoga dengan membaca ceritaku ini kini kamu tahu, hidupku baik baik saja, hidup menjadi manusia sangat menyenangkan…. Jauh lebih menyenangkan lagi jika semuanya dilalui dengan hal positif di dalam diri dan perasaan tulus dalam melakukan segala hal. Kuharap kamu bisa menulis atau bahkan datang padaku dan menceritakan bagaimana kisahmu kini.

Peter, aku sangat merindukanmu. Suatu saat jika kamu tidak sibuk, datanglah saat aku sedang tertawa menikmati indahnya persahabatan dengan manusia-manusia yang kusayangi, agar kamu tahu… apa yang kuceritakan padamu bukan bualan semata. Akan kukenalkan kamu pada manusia-manusia baik hati yang ada disekelilingku kini.

Peter , terimakasih telah mengajariku banyak hal hingga akhirnya aku bisa berkata “hidupku indah”. Semoga disana kamu bisa merasakan keindahan hidup yang kuceritakan melalui tulisan ini.

Sahabatmu,


Risa Saraswati

   

SEBUAH KALIMAT SEDERHANA YANG TIDAK SEDERHANA

Sekali waktu seorang teman menunjukkan sesuatu yang sama seperti yang ada di foto ini sambil bertanya ke gue, “apa yang lo lihat?”

Banyak banget jawaban keluar dari mulut (agak) cerewet gue. Mulai huruf X, tanda silang, simbol mantan pacar, kebodohan, orang gila dan lain-lain. Hampir aja putus asa soalnya gerakan atas bawah gak juga terlihat dari kepala teman gue itu. Terakhir pas gue bilang 'kesalahan', ada tarikan tipis membentuk bulan seperempat di bibirnya. Sebentar kemudian dia bilang “ini kertas putih, Anji!”

Mungkin sebal karena terlihat bego, setelah hari itu gue praktekkan hal yang sama ke beberapa teman, semuanya gak ada yang menjawab kertas putih. Ternyata bukan cuma gue yang beo, haha! Baiklah, ini penjelasan teman gue soal kertas itu...

Manusia kebanyakan melihat sesuatu secara sempit, tanpa melihat hal besar yang menjadi wadahnya. Itu hanya satu coretan, apalagi kalau banyak dan bermacam-macam. Pasti akan semakin banyak isi otak yang termuntahkan dengan asumsi-asumsi yang semakin liar. Si kertas putih pun terlupakan. Padahal sekotor apapun, ia tetaplah bernama kertas putih. Em…, kertas putih yang kotor, bisa juga. Cobalah buat melipatnya, pasti kotoran-kotoran tadi gak lagi terlihat.

Sekarang ibaratkan kertas putih itu adalah cinta. Coretan-coretan di dalamnya adalah kesalahan, rasa sakit, rasa cemburu, rasa memiliki yang berlebihan dan rasa-rasa lain yang tidak menyenangkan, yang bisa membuat mata berurai air tanda kepedihan dan hati yang terluka. Melipat kertas putih tadi bisa berarti menutup dan memaafkan semua kesalahan. Jadi gak terlihat kan?!

Memang ada kertas putih yang beneran kotor sampai bagian luarnya, sampai dilipat sekecil-kecilnya masih terlihat kotor. Itu saatnya kita mengambil kertas baru, dan menjalani proses mengisinya dari mula lagi.


Udah ah, terlalu banyak tulisan malah gak kebaca. Katanya, Hitler itu gak mau terlalu banyak mengeluarkan kata-kata supaya kalimat yang dikeluarkan mulutnya bisa mudah dicerna dan menghantui siapapun yang mendengarnya, lalu bikin mereka jadi pengikut perkataannya dengan tanpa sadar. Gue mau lanjut membaca coretan-coretan dalam hati gue sendiri dan coba menghapus, tanpa melipat…, dengan maaf terbungkus segala doa baik, tentunya.



Ini bukan Lebaran, tapi gak salah kan kalau saling memaafkan?! =)

Ditulis oleh:

Erdian Aji Prihartanto (Anji)


www.erdianaji.com

@erdiANaJI

   

Lupakan Backpack (pilih koper beroda)

 

 

Gue belajar satu hal dari perjalanan ke Spanyol 3 tahun lalu. Satu hal yang mudah-mudahan nggak bikin gue durhaka sebagai seorang backpacker. Gue belajar untuk tidak lagi menggunakan backpack untuk menjelajah kota-kota di Eropa.

Ini adalah beberapa alasan kenapa gue segera beralih dari backpack ke koper beroda:

1. Sakit punggung dan sakit pinggang

Memang awalnya terasa ringan berkat tali pengencang yang ada di perut, tapi silahkan coba menentengnya berjalan kaki selama 40 menit.


2. Packing agak sulit, membutuhkan teknik khusus

Kalau sudah pernah ospek pasti tau bagaimana cara packing di backpack yang benar. Barang-barang yang akan jarang dipakai ditaruh paling bawah, yang berat boleh di atas supaya seimbang. Sepanjang perjalanan tentunya kita akan sering mengambil pakaian atau barang, kemudian menyusunnya lagi di dalam backpack. Besar sekali kemungkinan kita memasukkan barang ke dalam backpack tidak sesuai seperti semula, atau justru cenderung jadi awut-awutan, pokoknya asal masuk. Ini akan menambah volume dari backpack, sehingga agak sulit untuk dikancing dan terasa lebih berat.


3. Ngambil barang susah

Ini mungkin kendala paling besar saat menggunakan backpack, yaitu saat mencari barang, apalagi kalau barangnya kita taruh paling bawah. Musti ngeluarin yang atas dulu kalau mau rapi, atau tangannya asal merogoh ke dalam backpack mencari barang yang kita butuhin. Resikonya, isi backpack jadi berantakan.


4. Baju nggak rapi

Ini mah sudah resiko, nggak mungkin kita menyimpan baju tanpa lecek di dalam backpack. Makanya kalau perjalanan lo membutuhkan baju rapi, mending nggak usah pakai backpack deh.


5. Kurang aman

Backpack itu tidak di desain untuk memakai gembok, dan nggak boleh juga dibawa masuk ke dalam kabin karena ukurannya terlalu besar, sehingga untuk masuk bagasi pesawat harus dikelompokan dan ditangani terpisah. Jangan sampai lo menaruh barang berharga dalam backpack, karena bukan tidak mungkin backpack itu sempat dibuka oleh petugas. Karena posisinya pula yang di belakang badan dan kantongnya yang banyak, kemungkinan dicopet akan jauh lebih besar.


6. Membahayakan orang lain

Bayangkan lo berdesak-desakan naik gerbong sebuah kereta, kepikiran nggak kalau lo bergerak, backpack lo akan menampar muka orang lain yang ada di belakang atau di samping lo?


7. Nggak gaya

Walaupun perjalanan lo budget-nya backpacker, tapi nggak ada salahnya kan kalau bisa kelihatan seperti traveling with style. Keuntungannya adalah jadi bisa lebih dihormati sama petugas keamanan bandara atau stasiun. Bahkan kalau lagi hoki bisa masuk executive lounge tanpa dicurigai. Backpack itu cuma cocok kalau kita pakai kaos, sweater, jeans, dan sepatu kets. Overcoat Armani, syal Burberry, dengan celana bahan Prada nggak akan pantes ditemplokin sama backpack, meskiipun Armani, Burberry, dan Prada-nya palsu.

Untuk orang yang memiliki kecenderungan OCD, atau Obsessive Compulsive Disorder, backpack juga bisa bikin stres. Menggunakan backpack tentunya akan sulit sekali menjaga semua barang-barang bawaan kita tersusun rapi. Lecek itu sudah pasti, belum lagi setiap mau ngeluarin barang pasti posisinya berubah dan jadi awut-awutan, apalagi kalau lagi buru-buru. Bukannya malah menghemat waktu, tapi malah bikin lama dan bikin panik.

Meskipun begitu, backpack juga punya kelebihan, misalnya bisa dibawa lari, bisa jadi senderan duduk, bisa jadi bantal kalau ketiduran di stasiun, bisa jadi pancingan untuk kenalan sama backpacker lain, banyak kantongnya buat baju kotor dan buat naro botol minuman, dan bisa membuat kita dipercaya sebagai pelajar untuk dapat tiket murah.

Berbeda dengan backpack yang penyusunan barangnya secara vertikal, koper beroda lebih mudah untuk diisi dan dikeluarkan. Beberapa kelebihan koper beroda antara lain:

1. Ringan

Kita tidak perlu mengangkat koper beroda, hanya perlu menarik atau mendorongnya. Bahkan koper beroda yang biasa digunakan oleh para turis Jepang itu lebih canggih lagi. Kopernya dilengkapi dengan empat roda di bawah, terbuat dari plastik yang kokoh. Kita tidak perlu menariknya dari belakang dengan kemiringan seperti koper beroda konvensional, tapi kita bisa mendorong koper itu sejajar tubuh kita tanpa perlu tenaga tambahan.


2. Packingnya mudah

Packing itu susah-susah gampang, Fashion TV ngajarin gue bagaimana cara packing yang benar dan paling efisien.

  • Kaos, celana, kemeja santai, pakaian dalam, celana renang semuanya dilipet kemudian digulung kecil, baru disusun padat di dalam koper. Cara ini sangat menghemat tempat dan lebih rapi.
  • Kemeja rapi, celana bahan, gaun, semua pakaian yang tidak boleh kusut di plastikin dulu baru dilipat, digulung juga boleh.
  • Ganti kotak dengan kantung kanvas, kain atau plastik untuk membawa barang-barang seperti perhiasan, aksesoris, sepatu, dan toiletries.
  • Kalau koper nggak bisa ditutup juga, dudukin aja sambil menutup retsletingnya.

Semudah itu, dan tentunya untuk ukuran yang sama, koper beroda bisa muat lebih banyak dibanding backpack.


3. Mudah mencari barang

Ini sebenarnya tergantung cara lo packing, tapi yang jelas jauh lebih mudah mencari barang di dalam koper beroda ketimbang backpack, karena dengan membuka retsletingnya kita bisa membuka seluruh isi koper. Lain halnya dengan backpack, yang meskipun sudah dibuka kita harus merogoh, meraba-raba untuk mencari barang yang kita inginkan.


4. Baju bisa tetap rapi

Dengan cara packing yang benar, baju-baju yang kita simpan bisa tetap rapi meskipun sudah terguncang-guncang di perjalanan.


5. Lebih aman

Pengamanan pada koper beroda sudah sangat beragam. Ada yang pakai kode angka, ada yang pakai gembok. Buatku gembok masih tidak tergantikan, karena lebih praktis, tidak perlu menghapal angka, dan kemungkinan rusaknya sangat kecil.


6. Gaya

Banyak desainer kelas dunia yang membuat koper beroda, sebut saja Louis Vuitton, Prada, Gucci, dan tidak ada satupun desainer kelas dunia ini yang membuat versi backpack-nya. Sebagai backpackers tentunya gue nggak mampu beli koper-koper mahal ini. Supaya tetap gaya gue membeli koper beroda gue di Carefour dengan harga yang sangat murah tapi bentuk, model, dan kualitasnya sangat memuaskan.

Sebenarnya pada akhirnya terserah lo juga lebih nyaman pakai koper beroda atau backpack. Gue cuman ngasih wacana aja kalau kegiatan backpacking itu nggak melulu harus menggunakan backpack. Yang penting kan esensi dari petualangan backpacking itu, tinggal lo yang nyesuain mau pergi kemana. Kalau tujuannya ke alam seperti camping di gunung atau hiking tentunya lo nggak mungkin kan pakai koper beroda. Cuman kalau untuk backpacking di Eropa atau kota-kota tujuan wisata lainnya menurut gue sih koper beroda sudah jadi pilihan yang paling bijaksana.

 

ditulis oleh:

Indra Febriansyah

Penulis buku Pelancong Nekat dan Go Explore

http://beachybitch.blogspot.com

@indrafeb

   

Page 1 of 2

Live Streaming

Ponggawa OZ


Banner
Banner